Home » , » KETIKA AKU MENCINTAIMU - CINTA YANG PEDIH

KETIKA AKU MENCINTAIMU - CINTA YANG PEDIH

Ada hal yang ingin aku jelaskan, ketika aku benar-benar memilih pergi dari sisimu. Kamu yang jauh di sana, perlakuanmu membingungkan ku. Kadang aku berfikir kita begitu dekat, namun kadang aku berfikir semua ini begitu semu dan palsu. Kamu cukup menyentuh hatiku, hingga aku merasa kurang waras untuk menyukai dan mencintaimu. Bukankah dari awal aku berjanji akan berusaha agar jangan sampai jatuh cinta?

Kadang aku berfikir, kamu adalah salah satu orang yang terindah dan terhebat yang aku miliki, kamu luar biasa mampu memberiku kekuatan untuk tetap bertahan, menyembuhkan luka di masa lalu ku. Kita dekat seperti saudara, namun perasaan ku yang halus karena aku wanita, hatiku tersentuh kagum oleh sikapmu. Tapi aku berusaha untuk menahannya agar kamu tak pernah tahu jika aku menggumi dan menyukaimu. Sikapmu yang dewasa, lembut dan bijak membuatku bertahan untuk tetap menjadi sahabatmu. Namun cinta merubah pandangan dan segalanya, dulu saat semua terasa biasa kita sering bercanda saling menghina hingga kita tertawa lepas bersama, semua tanpa beban tanpa ada rasa sakit hati. Kini semua telah berubah, aku selalu berusaha untuk bersabar menerima semua makianmu, tapi sebagai perempuan jika kamu menghina salah satu bentuk fisik yang tidak di sukai nya siapapun akan marah. Serta tak adil, kadang aku berfikir benar aku harus jauh darimu, berhenti menjadi pendengarmu dan menyerah oleh semua sikapmu. Jika aku bertahan semua akan menimbulkan luka yang semakin dalam.

Kamu sadar apa yang kamu katakan padaku? Apa kamu tahu apa yang kamu lakukan, seolah kamu mencintaiku. Saat aku putuskan untuk hidup bersama orang lain, kamu seolah menghalangiku dan selalu marah tak jelas.hingga aku putuskan untuk mengakhiri semuanya dengannya. Aku pikir benar kamu mencintaiku, tapi aku mendengar kenyataan pahit. Ketika kamu mengatakan merasa jiji, takut mendekatiku jika aku mencintaimu. Kamu memang mengatakannya dengan santai, tapi aku sendiri yang mendengar cukup tersinggung. Lama aku berfikir, kehidupan tak mungkin aku terus di bawah kemauan kamu. Aku melihat cinta yang indah, fatamorgana yang membutakanku dan akan membuatku terluka dan terjatuh. Lalu aku berfikir, kamu manusia paling licik, memiliki pacar yang banyak, menggoda banyak wanita dan tebar pesona. Tapi jika aku sedikit saja dekat dengan yang lain, kamu marah. Awalnya aku berfikir kamu juga menyukaiku tapi ternyata salah, ada sesuatu yang berbeda semua terasa berubah, aku semakin tak nyaman berada di dekatmu. Setiap hari berfikir keegoisanmu. Aku selalu mendukungmu jika kamu bahagia berkenalan dengan wanita lain. Meski kadang aku merasa sedih tapi aku berusaha mendukung apa yang kamu sukai. Aku memang sering bercanda, tapi saat aku serius aku akan memujimu mengatakan hal-hal yang baik agar terpacu sikap positip sehingga motivasi dalam dirimu terpencar. Dan hari-harimu semangat, aku katakan hal-hal yang baik. Berusaha menjadi motivator mu. Tapi saat aku mulai tak kuat dengan keadaan ini, dimana aku akan kamu tinggalkan, dimana semuanya akan berubah. Aku semakin takut kehilangan dan semakin menjadi. Aku meminta agar komunikasi kita terputus dan kita menjauh, kamu marah seketika lalu aku jelaskan bahwa aku mencintaimu. Aku tau dari pengkauan itu, aku tahu isi hatimu. Benar saja kamu merasa jijik kepadaku, menghinaku tak karuan. Sikap bercandamu berbeda, kamu mulai menghina bentuk fisiku dengan mengatakan wajah jelak, dan hal yang membuatku perasaanku down. Yah aku jelek, aku memang menjijikan . semakin kuat keinginanku untuk mejauh, dengan harapan bisa menenangkan diri. Aku mengatakan aku mencintaimu, bukan memintamu untuk mencitaiku atau harapan kamu iba. Aku hanya ingin kamu mengerti dan mulai memahami semua maksud ku untuk sejenak pergi menjauh. Jika kamu ingin tahu, bahkan aku pun tak ingin berdoa kamu mencintaiku atau kita berjodoh. Aku selalu berada di bawah kakimu, awalnya aku menurut karena aku selalu ingin melakukan yang terbaik untuk menjadi sahabat terbaikmu. Jika kamu benci karena perasaanku, aku tak memintamu untuk terus menjadi bagian dari hidupku, aku hanya berharap sedikit saja jaga perkataanmu. Bahkan yang paling menyakitkan kamu selalu menganggapku wanita paling hina dan rendah. Lebih dari kupu-kupu malam, aku tak pernah meminta agar kamu mencintaiku. Aku mengatakannya karena aku hanya ingin sendiri dan menenangkan diri. Saat aku ingin menjauh kamu memang menahanku untuk tidak pergi, saat aku bertahan hinaanmu tentang wanita yang hina membuatku semakin tersudut. Aku lebih baik sendiri, tapi kamu mengatakan aku akan bergaul dan hidup di jalan lagi. Tugasku menjadi sahabatmu, namun jika kamu sudah menghina dan merasa jijik pantaskah aku bertahan? Setidaknya hargailah aku sebagai sahabatmu, perasaan jijikmu begitu besar sehingga kamu menghinaku habis-habisan. Tapi??? Aku juga jenuh dengan sikap mu yang seolah mencintaiku, tapi kini aku yakin bahwa kita tak perlu bersama. Kamu temukan hidupmu sendiri dan aku akan mencari hidupku sendiri.
Tapi aku tak akan lupa, bahwa dahulu kamu sahabatku paling baik, pengertian, penyayang dan pendengar yang baik. Sikapmu yang mampu menyentuh hatiku, kamu tahu? Menyesal aku akui segalanya jika akhirnya kamu membenciku, minimal aku hanya ingin menjadi saudaramu. Bermimpi jadi pendampingmu pun aku tak mampu, aku sadar aku adalah wanita yang kamu kenal sangat hina setelah kamu merasa jijik.

Lalu kenapa dulu kamu menghalangi langkahku untuk menggenggam tangan yang lain.
Sahabat…..bencimu sangat tak beralasan. Kita sudah seperti saudara, tiba-tiba kamu menghinaku mati-matian. Aku tak pernah memintamu untuk mencintaku. Jangan pernah menyentuh hati, jika tak ingin melukai. Beriskaplah seperti sewajarnya seperti dahulu saling berbagi karena kita seperti saudara. Aku tak akan mengangganggu mu lagi. Aku pergi…….aku yakin ketika aku pergi kamu tak akan pernah merasa sepi. Kata-kata mu bohong besar ketika megatakan “ aku beruntung mengenalmu, jika tidak aku bisa gila” sikapmu yang berubah menjadi benci sudah cukup mewakili hatimu. Aku tak pernah menyesal pernah menyukaimu, tapi aku tahu semua semu ini adalah hal yang tak mungkin. Karena aku pernah berfikir kamu memiliki rasa yang sama karena perlakuanmu. Tapi saat ini aku cukup tahu, kenanglah aku sebagai sahabatmu. Namu, jika kamu memandang hina diriku, peliharalah pandanganmu. Karena tak ada yang meyuruhmu untuk memandangku indah.
Terimakasih dahulu kita pernah berjuang bersama, bahkan saat susahpun bersama. Kini aku pergi, berharap kamu meredam rasa benci dan kamu tak perlu buang energy untuk menghinaku lagi. Aku ingin sendiri dalam sepi dan berharap ketika aku merasa tenang, semua tindakanmu bisa aku lupakan.



/>

0 komentar:

.comment-content a {display: none;}