thumbnail

SALAM RINDUKU UNTUK MEREKA


Aku ingin bertanya pada angin yang sepoi-sepoi di atas ranting-ranting dan dedaunan di atas gunung yang menjulang tinggi di atas awan, adakah mereka mampu mendengarkanku? Berharap angin dapat menyampaikan salam rinduku pada mereka yang aku cintai. Aku ingin berteriak hingga awan di atas sana di bawah langit biru mendengarkanku betapa aku merindukan mereka yang aku cintai berharap mereka membawa rasa rinduku dan menyampaikannya pada mereka yang aku cintai. Di bawah langit yang sama diatas bumi yang sama, aku berada jauh dari mereka. Hatiku menangis betapa aku tak mampu membendung rasa pilu di hati ketika bayang mereka terus menari dalam setiap langkahku. Jika wajah itu, jiwa itu, dan raga itu dekat berada disini aku ingin memeluk mereka betapa girang hatiku akan ku kabarkan pada dunia betapa aku bahagia saat berada dekat dengan mereka. Terkadang aku menangis, hingga suara angin yang sendu di malam hari mampu mendengarkan jeritan hatiku yang pilu karena merindukan mereka. Sesaat angin menyapaku begitu dingin hingga menusuk ke tulang,  menyelipkan kerinduan yang semakin hebat. Malam yang pekat, langit yang hitam pucat mampu menggambarkan suasana hatiku saat ini.
Kadang aku ingin berseri seperti bunga-bunga yang mekar di pagi hari, menebar keharuman hingga penjuru bumi. Menari di atas indahnya dunia, di bawah langit biru yang begitu cerah hingga melayang tinggi ke udara. Aku ingin bebas seperti burung, yang terbang tinggi tanpa rasa khawatir, kesana kemari sesuka hati. Aku ingin terbang... jika saja jarak itu dekat aku akan pergi setiap saat sesuka hatiku.
Aku disini, aku butuh waktu untuk menyesuaikan semuanya, aku butuh sesuatu yang dapat meyakinkanku bahwa tanpaku mereka baik-baik saja.
Dunia... sepi dalam sekejap. Hening.........
Aku merasa dunia ini sendiri dalam sepi dalam gelapnya malam bertabur dengan harapan-harapan yang tak mampu aku bawa hingga aku bisa bangkit. Sepi.... senyap... aku merasa sebagian dari jiwaku saat ini menghilang.
Adakah yang bisa membuatku bertahan? Meykainkanku dan menguatkan ku, dan berkata bahwa aku mampu.
Aku..... ingin selalu bersama mereka.
Tapi kenyataan mengatakan hal yang lain.... benar saja setiap kehidupan selalu ada sesuatu yang berubah. Entah itu keadaan atau apapun itu...
Aku suka melihat gunung di balik awan, aku senang merasakan hembusan angin. Anganku melayang jauh hingga melambung tinggi, membayangkan wajah mereka berada dekat denganku, membayangkan aku tertawa lepas dengan kehidupanku sebelum masa ini, semua terbayang indah. Semakin menyeret jiwaku dalam rindu yang semakin dalam.
Jiwaku.....
Aku ingin mendengar suara mereka...
Ayah, ibu dan keponakanku serta anak-anakku.... yang menangis pilu ketika melepasku pergi. Tak ada yang setulus mereka.
Semoga Allah selalu menjaga mereka, mencitai dan memelihara mereka serta menjaga dan melindungi aamiin.
Kadang kala ada kalanya aku teringat dengan kehidupanku, tak mudah bagiku meninggalkan semua orang-orang yang aku cintai, berada jauh dari mereka butuh jiwa yang besar agar aku mampu bertahan. Tapi kadang rasa rinduku tak mampu aku bendung...
Keluargaku rumah pertama...
Anak-anakku adalah rumah kedua...
Wajah mereka yang selama ini menabur kebahagian dalam hidupku.... jika boleh aku menawar aku ingin memiliki waktu hanya sehari atau dua hari saja bersama mereka dalam seminggu.
Bahagia itu ketika melihat seyum mereka terukir manis di wajah mereka,...
Lelah tentu saja dalam menjalani kehidupan ini, tapi ketika berada dekat dengan mereka rasa lelah dan sedihpun hilang seketika.
Aku ingin sekali melihat mereka yang aku cintai dalam setiap harinya,berada di samping mereka menjadi bagian dari kehidupan mereka yang tidak pernah menghilang...
Karena aku pun sama, aku ingin mereka selalu menjadi bagian dari hidupku yang melekat hingga jiwaku lemah tak berdaya.
Disini, ditempat ini... aku belum mampu berdiri setegar itu. Aku tak mampu tersenyum sehangat mentari di pagi hari. Aku masih belum mampu menyapa hari-hari yang terus berganti..
Aku masih belajar untuk menguatkan diriku... mendamaikan jiwaku.
Bukan aku tak bahagia tapi aku belum mampu mengikhlaskan diriku. Mungkin nanti aku mampu aku bisa mengikhlaskan jalan cerita hidupku.

Aku percaya.... Tuhan memberikan jalan terbaik untuk semua hamba-hambanya... jalanku saat ini adalah jalan Tuhan yang telah di hadiahkan untukku. Semoga aku mampu menjadi hamba yang bersyukur

thumbnail

KERINDUAN DI BALIK HUJAN


Awan ceritakan padaku apa yang kau lihat di atas sana? Apa kau melihat bintang-bintang yang sedang bergurau? Atau kau melihat ke permukaan bumi yang penuh dengan kebisingan?
Aku ingin sekali berada di sampingmu... melihat keindahan di atas sana... dan melihat permukaan bumi yang sedemikan rupa.
Aku kadang ingin bersembunyi di balikmu...menyembunyikan semua yang ada dalam hati ini. Apa kau berteman dengan hujan? Katakan padaku.... apa yang di katakan hujan ketika ia menjatuhkan diri ke bumi? Apa yang sedang mereka lakukan dengan segerombolan titik-titik air yang menjatuhkan diri bersama-sama? Apa mereka menari? Apa mereka tertawa? Apa yang mereka bawa? Hadiah apa yang dipersembahkan hujan untuk bumi?
Aku tahu.... selama ini ada banyak rahasia di balik hujan, adakah hujan dan angin itu bersahabat? Aku juga penasaran apakah hujan begitu girang ketika pelangi menari di atas mereka....
Aku juga mendengar rahasia besar tentang hujan... apakah hujan itu adalah sebuah pesan? Pesan rindu yang dikirim langit untuk bumi?
Apakah sejauh itu jarak antara langit dan bumi? Bagaimana bisa antara keduanya bisa menyampaikan rasa rindu sementara mereka terbentang jarak yang jauhhhhh tak terkira.
Hujan??? Bagaimana hujan bisa menyampaikan pesan dari langit untuk bumi????
Awan ceritakan padaku uraian cerita mengapa di balik hujan selalu ada rindu yang tak terpatahkan???

“ Langit begitu kokoh berada di atas sana, langit mempersembahkan malam yang indah.. bertabur bintang dan berhiaskan bulan yang elok cemerlang di atas sana. Apa yang di lakukan langit? Sehingga sedemikian rupa merancang tentang keindahan malam hari... dalam gelap bertaburkan cahaya berkerlap – kerlip dengan cahaya bulan yang menderang”.

Lalu apa yang di sampaikan langit dengan semua keindahannya itu?
“Langit mempersembahkan hadiah terindah untuk bumi... meski langit jauh di atas sana. Langit mengabarkan bahwa dia selalu ada menemani bumi. Cahaya bintang dan cahaya bulan mampu melukiskan senyum indah untuk bumi. Menemani agar tak sendiri dalam sepi.... jarak jauh bukan berarti langit tak perduli. Tapi sungguh betapa langit selalu mencintai bumi... ia memeluknya meski jauh...ia menerangi nya agar bumi mampu tersenyum dan bertahan. Langit memberitahu bahwa bumi tak pernah sendiri”

Lalu jarak mereka begitu jauh, selama ini bumi hanya melihat dari kejauhan bagaimana langit mencintai dan memeluknya. Lalu bagaimana cara langit meyakinkan bumi bahwa dia tetap perduli dan mencintainya. Jarak mereka jauh sekali.... bagaimana cara mereka saling menyapa? dan apa yang di lakukan langit ketika langit begitu rindu dan ingin menyapanya? Mendengar suara bumi yang merdu dalam sendu dan pilunya hari karena tak mampu membendung perasaan terhadap langit... betapa bumi ingin berada di sampingnya?
“ tak selamanya sesuatu itu harus selalu berada dekat, kadang kehidupan dan keadaan alam semesta harus mampu menerima kehidupan .... tak ada satupun yang mampu melawan takdir. Ketika takdir bertindak maka segala sesuatu yang telah di tetapkan dan digariskan akan menjalani tugasnya masing-masing. Akan berada pada tempat yang telah ditetapkannya. Langit dan bumi tak mampu melawan takdir dan kenyataan, tapi keduanya memiliki kesempatan satu sama lain untuk tetap saling menguatkan. Langit mempsersembahkan matahari untuk menghangatkan bumi, langit mempersembahkan bintang dan bulan untuk menjadi penerang dalam kegelapan. Langitpun akan mengirimkan pesan kerinduan lewat hujan, ia mampu mendengar nada dan irama kerinduan dari bumi yang di sampaikan langit lewat lantunan hujan. Hujan turun menjatuhkan diri ke permukaan bumi... sebagai pertanda bahwa langit tak akan membiarkan bumi gersang akan kerinduan. Langit akan membasuh kerinduan terhadap bumi lewat hujan. Ketika bumi merasa bahagia akan persembahan kerinduan terhadap langit.... maka bumi pun akan membalas rasa bahagianya dengan mengirimkan pelangi sebagai tanda betapa ia bahagia dapat mendengar dan menyapa langit lewat hujan, maka dengan itulah bumi menyampaikan rasa bahagianya dengan mengirimkan pelangi lewat hujan dengan bantuan sinar kebahagiaan yang di pancarkan oleh sang surya”
Kerinduan mampu dengan sekejap di sampaikan oleh langit kepada bumi, begitu pula sebaliknya. Derasnya hujan dalam alunan nada rintik – rintik hujan yang kini menjadi pesona kerinduan bagi alam semesta menjadi sebuah pesan harmoni yang penuh dengan kebahagiaan betapa eloknya kerinduan yang di sampaikan oleh mereka.
Tak ada yang tak mungkin... selama masih ada kehidupan, selama alam semesta masih mampu bertahan. Selalu ada cara yang di lakukan langit dan bumi untuk berkirim pesan kerinduan.
Suasana sendu.... mendung dalam keheningan adalah pertanda betapa besarnya rasa rindu langit untuk bumi. Sehingga langit tak mampu membendung kerinduan itu dan akhirnya mengirimkan pesan rindu lewat hujan.

Hujan selalu membuat suasana menjadi lebih tenang, harmoni dan nadanya mampu mengukir senyum yang indah dan berakata  “ aku merindukannya” dan saat itu.... kerinduan selalu hadir dan tersampaikan. Karena di balik hujan yang turun selalu ada harapan dan doa yang tercurahkan.”
Itulah mengapa hujan selalu membawa kerinduan.


thumbnail

KISAH NYATA SEORANG ISTRI YANG MENCARI SUAMINYA ( TERNYATA SUAMINYA SUDAH MENIKAH LAGI )

Beberapah hari yang lalu seorang teman bercerita, tentang seorang ibu yang menggendong anaknya yang masih bayi sekitar usia 1 tahunan dan tangan yang satunya lagi memegang anaknya yang sekitar usia 4 tahunan.
Di sudut jalan seorang ibu berdiri bersama anaknya, pakaiannya lusuh dan wajahnya begitu pula seperti menyimpan luka dan sakita hati yang besar. Temanku mengawasinya dari jauh, dia terus melihat. Kenapa saat memberhentikan angkot, tak satupun angkot yang berhenti. Kemudian temanku menaghampirinya dan bertanya “ bu mau kemana? Kenapa angkotnya gak berhenti?” sambil melihat kondisi ibu dan anak ini, wajahnya penuh air mata sedangkan sang anak wajahnya kotor seperti belum mandi, badan mereka pun agak bau. Seketika si ibu semakin berderai air mata, lalu menceritakan duka nestapa yang menimpanya.
“saya mau pulang neng ke Pangandaran, tapi saya gak punya uang. Sudah beberapa hari saya di Tasik dan ga bisa pulang” sambil menangis dan melihat wajah anaknya, terlihat sekali mereka kelaparan penuh harap ada uluran tangan yang bisa membantu mereka. Lalu teman saya bertanya “ ibu selama di Tasik tinggal dimana? Tidur dimana?”. Ibu itu menjawab “ saya tadinya mencari suami saya diantar kakak saya dari Pangandaran, saat sampai Tasik kakak saya pergi lagi ke Pangandaran , suami saya kerja di Tasik, sudah lama dia tidak memberi kabar dan tidak pulang. Ternyata pas saya mencari dan bertemu sama dia, dia sudah menikah lagi. Dia sedang bersama istri barunya saat itu, dari situlah saya di usir dan di marahinya. Niat saya ingin mencari suami, agar rumah tangga saya baik – baik saja, kasian anak-anak.” Wajahnya begitu memelas, pakaian lusuhnya pun menghias dan menambah duka mereka. Teman saya merasa tergerak hatinya, lalu dia mencari pertolongan terhadap orang sekitar. Tapi tak ada satupun yang menlongnya hampir putus asa, tapi hatinya begitu kuat untuk membantu. Lalu teman saya memohon dan menyuruh agar ibu itu tidak kemana-mana, teman saya akan pulang meminta bantuan terhadap keluarganya “ bu, tolong jangan kemana-mana ya! Saya mau pulang dulu, rumah saya dekat ko bu. Ibu tinggal di sini jangan kemana-mana?”
Ibu itu ditinggalkan sementara teman saya pulang meminta bantuan terhadap keluarganya, akhirnya teman saya membawa uang sebesar Rp 60.000,00 , pakaian untuk ibu itu dan kedua anaknya serta makanan. Saat tiba di tempat sang anak yang berusia 4 tahun terlihat sedang diberi makanan oleh petugas kebersihan, teman saya tersenyum dan menghampiri mereka. “ ibu ini ada pakaian, tolong ibu ganti di wc umum biar enak dilihat dan mengganggu orang, ini juga ada sedikit makanan untuk ibu dan anak-anak ibu. Ini bu maaf saya gak bisa antar ibu ke Pangandaran, ini ada ongkos buat ibu pulang. Bu ongkos ke Pangandaran berapa ?” ibu itu menangis dan bererai air mata, seektika bibirnya bergetar dan tak bersuara hanya bisa mengusap kepala kedua anaknya, mungkin dalam hatinya dia bersyukur bisa pulang atau berfikir kenapa orang lain bisa sepeduli itu sedang suaminya dimana. Saya yakin hati wanita mana yang kuat melihat suaminya bersanding dengan wanita lain, apalagi ini sampai hati mengusir dan memarahinya. Lambat laun tangisnya pun reda, hanya bisa terucap terimakasih tiada henti. Lau teman saya juga memberhentikan angkot 05 jurusan Indihiang “ bank ini ongkosnya 5rb, tolong antar ibu ini ke tempat tujuan  untuk naik bis jurusan Pangandaran” lalu ibu dan anak itu naik angkot.
Tak habis pikir seorang suami yang berhianat terhadap istrinya dan tega menelantarkan anaknya tidur di jalanan, tak sedikitpun untuk mencarinya kembali atau berfikir apa yang akan terjadi mereka di jalan kelaparan ?
Seorang suami adalah pemimpin bagi dirinya sendiri, istri dan anaknya. Harusnya mampu dan wajib memberikan perlindungan dan hak kewajibannya terhadap keluarganya.
Bagaiamana pantas di katakan seorang pemimpin? Memimpin dirinyapun tak mampu, sikap ini pecundang dalam dirinya lebih besar di bandingkan dengan sikap ksatria seorang laki-laki seharusnya.
Para ayah/lelaki di dunia, nikah bukan untuk sesaat apalagi di ucapkan atas nama Allah berjanji di hadapan Allah dan kerabat, dan nikah bukan sekedar bikin anak lalu lepas tanggng jawab. Suatu saat anak yang anda buang bahkan akan anda cari, di saat anda mencari dan menemukannya ada kemungkinan besar dia akan menelantarkan anda di masa tua renta anda, karena ada perasaan sakit yang membekas tak kunjung sembuh.
Karena akan dimana kita berada pada posisi yang sama, saat kita bebruat dzalim terhadap yang lain.
Saya juga punya cerita, kebetulan ini tentang tentangga saya. Dia menikah dengan istri pertamanya, setelah punya anak sekita 4 dia menikah lagi, tepat dengan seorang wanita yang masih tentanggaan. Singkat cerita semua anaknya sudah besar dan memiliki anak, apa yang terjadi saat menjelang tua? Tak satupun anaknya yang peduli sikap acuh yang luar biasa, bahkan saat sakitpun tak ada satupun yang memberinya makan. Hingga pada akhirnya ia meninggal di kamarnya karena kelaparan. Ini bukan bohong tapi benar adanya.
Coba anda perhatikan, adakah seorang ayah yang hidupnya bahagia di masa tuanya? Sedang saat muda ia menelantarkan anak dan istrinya.
Jangankan di dunia, di khirat kelakpun ia tetap di minta pertanggung jawaban atas perbuatannya.
Lalu bagaiaman Hukum suami/ tugas dan kewajiban suami terhadap anaknya?
1.      Harus memelihara dan memenuhi kebutuhan dalam hidupnya
2.      Menjaga dan mendidiknya dengan baik, saling mengingatkan bersama istri
3.      Menjaga keselamatan dan kehormatan keluarga



Seorang suami wajib hukumnya menjalankan tugas-tugasnya sebagai pemimpin dalam rumah tangga. Dan mencontoh Rasululloh sebagai suri tauladan


thumbnail

MEREKA ADALAH HARAPAN BANGSA - SEMANGAT YANG TAK PERNAH PADAM DI TENGAH KEHIDUPAN MEREKA YANG SULIT

Perjalanan hidup selalu di pertemukan dengan hal yang baru. Entah itu mengesankan ataupun menjengkelkan. Tapi di setiap kejadian selalu ada pelajaran yang berharga yang bisa di petik hikmahnya. Hidup selalu mempertemukan kita dengan kejadian dan orang – orang yang tak terduga. Ini kisah dan pengalamanku yang menurutku sangat menarik, dimana aku pun belajar dari mereka untuk memperbaiki diri aku, untuk berjalan dan terus melangkah. Jadi manusia hebat seperti mereka yang mampu berdiri meski dalam keadaan pedih sekalipun.
Memang benar…setiap orang bekerja pasti ingin mempunyai penghasilan yang besar, bisa memenuhi kebutuhan syukur-syukur bisa membeli apa yang kita inginkan dan bisa berbagi. Ini kisahku, jujur aku adalah orang yang paling matre dalam hal pekerjaan, karena jujur saja pekerjaan adalah hal yang paling bergengsi dan berkelas. Modal masa depan dan untuk memenuhi kebutuhan pokok.
Awal tahun 2015 aku mulai terjun ke dunia pendidikan, tentu awalnya aku karyawan swasta di sebuah perusahaan ternama. Akhir tahun 2014 aku dan rekan-rekan ku kena PHK, maka awal tahun aku mencari kerja. Kebetulan awal tahun 2015 ada yang menawarkanku sebuah pekerjaan, sebagai tenaga pengajar di sebuah Sekolah Swasta. Sekolahnya kecil, jauh dari pusat perkotaan, jalannya amat jauh, sepanjang perjalanan aku hanya melihat pepohonan yang menjulang tinggi di tambah kondisi jalan saat itu berlubang dan rusak parah. Awalnya merasa tak sanggup namun hati berkata “ ayo coba, kita berasal dari dunia pendidikan basic kita seorang pengajar”. Maka aku putuskan untuk mengajar, awalnya aku kaku karena lama aku tak bicara di depan banyak orang, tapi lama kelamaan aku bisa mengatasi rasa gugupku. Hal yang paling mengagetkan adalah honor perbulannya, aku sampai melongo karena kaget…aku mendapatkan tak lebih dari Rp. 150.000,- nilai yang fantasis kaget luar biasa. Awalnya aku bingung…bagaimana bisa aku mencukupi kebutuhan hidupku jika dalam sebulan hanya berpenghasilan Rp. 150.000.
Aku teringat pesan dari Guruku saat duduk di bangku SMA ‘ anak-anak jangan pernah kalian berharap menjadi guru, jadilah kalian pengusaha yang hebat. Jika kalian menjadi guru maka penghasilan kalian akan nihil, namun jika kalian tetap ingin menjadi guru. Maka jadikanlah profesi itu sebagai sampingan jangan jadikan pekerjaan pokok”. Pak Maman adalah seorang Guru Sejarah, dia seorang PNS dan pengusaha yang sukses. Mungkin beliau berkata demikian karena beliau pernah tahu rasanya jadi tenaga kerja honorer.
Kepalaku sampai pusing sekali, di tambah aku punya beban setoran motor perbulannya. Maka aku nekat jualan makanan ringan di media social, aku memasaknya sendiri dan aku mengantarkannya tanpa tambahan ongkos kirim minimal pembelian dua bungkus.
Saat itu aku mengajar hanya 4 hari dalam satu minggu, maka 3 hari aku gunakan untuk mencari uang tambahan. Hari pertama aku promosi, hari ke dua aku memasak dan di hari ketiga aku DO kebeberapa tempat. Pernah dalam satu hari aku mendapatkan hampir Rp. 500.000
Dari jam 8 pagi aku berangkat dan pulang hingga magrib. Di sana aku merasa bersyukur karena bisa membayar setoran motor. Dalam sebulan aku hanya dagang 4 x. karena d hari lain aku tak bisa megantarkan barang kecuali hari libur.
Berdagang memang menyenangkan , setidaknya aku punya penghasilan lain. Meski kadang-kadang ada saja hari dimana kita lagi sepi.
Pergi ke Sekolah, ternyata dapat menghilangkan stress melihat mereka yang ceria dan penuh semangat memang serasa hilang beban yang ada di pundak. Awalnya aku merasa kaget dengan honor yang aku terima, tapi hati ini lama kelamaan berasa ikhlas dan nyaman dengan apa yang aku jalani sekarang.
Desa itu, sekolah itu dan anak-anak itu seperti tak pernah tersentuh oleh jaman, melihat keadaan itu seperti melihat kehidupan tempo dulu. Pemukiman warga rata-rata bukanlah rumah yang biasa kita lihat di kota. Namun pemukimannya berupa rumah panggung, jalan yang di lapisi tanah merah yang licin, di sekitarnya terhampar sawah dan pegunungan sungguh suasana yang masih alami dan asri. Melihat anak-anak pun demikian, mereka masih kurang pergaulan, dari tata bicara dan hal lainnya mereka terlihat kurang dalam hal itu.
Anak – anak itu, adalah anak-anak yang hebat dan tegar. Pantang menyerah, lokasi sekolah dari rumah mereka bukanlah jarak yang dekat. Memang sebagian rumah mereka ada yang dekat dengan sekolah, namun dari sebagian yang lain kebanyakan jauh dari sekolah. Waktu yang mereka tempuh sekitar 1 jam, ada juga yang mencapai waktu hanya 30 menit. Dan luar biasanaya mereka datang ke sekolah tidak menggunakan kendaraan tapi mereka tempuh dengan jalan kaki. Aku pernah melintasi pemukiman itu jalannya seperti ninja hatori, melewati gunung, sawah dan sungai. Malah ada salah satu anak yang rumahnya di atas gunung. Kondisi tanah merah jika musim penghujan amatlah licin, aku merasa tak sanggup saat berjalan kaki dengan anak-anak melintasi pemukiman untuk menandai lokasi dalam kegiatan masa orientasi sekolah. Rasanya terengah-engah nafasku hingga ada satu anak berkata “ ibu padahal baru tanjakan segini , masih kuat gak bu?” jujur bagiku ini jalan yang amat sulit aku capai apalagi balik lagi ke sekolah. Mereka mungkin karena terbiasa berjalan jauh seperti ninja hatori.
Sungguh luar biasa semangat mereka, perjalanan jauh tak menjadi halangan mereka untuk datang ke sekolah. Bagi mereka sekolah adalah sebuah cahaya dan pengharapan untuk merubah nasib mereka. Mereka terlihat ceria dan semangat dalam belajar.
Bagiku ini adalah salah satu kepuasaan yang tidak aku dapatkan saat bekerja, belajar dengan mereka, berbagi cerita dengan mereka adalah hal yang unik dan menarik.
Dalam satu kesempatan aku berusaha memotivasi mereka agar mendapatkan nilai ulangan yang tinggi, karena kaget bukan maen saat ulangan harian di lakukan mereka hanya mendapatkan nilai do re mi, itu bukan hanya aku yang kaget banyak gurupun merasa kaget dengan hasil yang mereka capai. Aku selalu menjanjikan sebuah hadiah, jika nilai terbesar akan mendapatkan hadiah. Hadian bisa berupa bolpoint, buku, penggaris atau makanan yang baru mereka lihat. Alhamdulillah nilai ulangan tak terlalu parah meski yang mencapai nilai tinggi adalah orang yang sama.
Setidaknya aku tidak merasa kaget dengan nilan do re mi. ya, … aku tidak mengajar di sekolah ternama, bukan mengajar di lingkungan anak-anak yang orang tuanya mapan. Tapi aku mengajar di tempat yang jauh, seolah tak tersentuh oleh jaman, di lingkungan keluarga yang rata-rata ekonomi mereka tidak terpenuhi, di tempat itu jarang sekali anak yang meneruskan sekolah ke jenjang SMP. Seperti jaman dahulu kala, jaman nenek aku..beberapa bulan setelah lulus SD mereka menikah. Itupuh hal yang terjadi di tempat itu, baru lulus beberapa bulan mereka langsung menikah.
Merekalah yang mempunyai semangat yang tinggi meneruskan sekolah dan memiliki harapan ingin melihat dunia dan membangun desa mereka.
Jumlah siswa kelas VII sebanyak 8 orang, kelas VIII 13 orang dan kelas IX sebanyak 18 orang. Tiap tahun jumlahnya menurun. Sulit sekali mengajak mereka untuk sekolah, padahal pihak sekolah tidak memungut biaya sepeserpun. Baju seragam dan batik sekolah di berikan secara Cuma-Cuma. Tapi meski demikian mereka adalah pejuang masa depan. Terlihat dari perjuangan mereka yang pantang meyerah untuk mencapai lokasi.
Ya tawa mereka, senyum mereka dan semangat mereka jauh dari apa yang aku pikirkan. Aku pikir di balik senyum dan kecerian mereka tak ada beban yang mereka pikul, tak ada luka yang mereka bawa. Tapi ternyata aku salah, perjalanan hidup mereka teramat berat. Bahkan aku pun sampai menangis dan tak bia tidur dalam waktu seminggu, terpikir masa depan mereka dan kesedihan mereka.
Saat itu, materi pelajaranku telah habis. memberikan kisi-kisi kepada anak-anak untuk ujian hanyalah beberapa menit saja. Aku saat itu hanya ingin tahu kehidupan mereka, ya aku bukan Guru B. Indonesia yang mengajarkan mereka menulis puisi ataupun cerita pendek, dari kelas VII sampai kelas IX aku memberikan tugas yang sama.
saat itu aku menyuruh mereka menuliskan kisah kehidupan mereka, pengalaman yang paling mereka ingat dan kondisi orang tua mereka di rumah. Saat itu ada beberapa anak yang menangis terisak-isak, kaget bukan main. Aku mendekatinya dan mengusap pundaknya. Ada beberapa anak yang termenung.
Dan akhirnya mereka mengumpulkan tulisan mereka. Ada beberapa anak yang menurutku sulit sekali untuk mereka jalani, dan ini bukan sedikit tapi dari sekian siswa hampir semua mengalami kehidupna yang sama.
Anak bertubuh tinggi dan duduk paling depan kelas IX:
Dia menuliskan kisahnya “hidupku memberikan luka yang berdampak pada 1000 duka, saat ibuku menikah lagi dengan pria lain. Dia tak peduli lagi denganku”

Anak lain kelas IX menulis
“dari aku kecil hingga dewasa, aku belum pernah melihat wajah ayahku, dia meninggalkan aku dan ibuku. Ayahku paling jahat di dunia”

Dua anak kelas IX menulis kisah yang sama, karena mereka bekerja di tempat yang sama:
“ aku sekolah pukul 7 pagi, dan pulang sekolah langsung bekerja. Pulang kerja sekitar pukul 10 malam, kadang langsung tidur kadang belajar”

Anak yang lain kelas IX menuliskan kisahnya:
“ aku tinggal bersama nenek dan kakekku, mereka crewet sekali aku kesal setiap hari di marahin, ada di rumah di marahin apalagi kalo maen di marahin. Aku bingung apa yang harus aku lakukan”

Anak yang lain kelas IX menulis:
“aku sedih melihat ibu bekerja, sementara ayah hanya diam saja. Aku sedih jika pulang sekolah merasa lapar dan di rumah tidak ada nasi dan lauk”

Anak kelas IX menulis;
‘ hal yang tak aku lupakan adalah saat ibu hamil tua dan ayah pergi berdagang, dia tidak pulang-pulang ternyata dia sering berjudi”

Anak kelas IX menulis kondisi rumah yang tidak sehat
“setiap pagi ibu marah-marah bertengkar sama ayah, aku paling kesal kalo melihat ibu lagi marahin adik. Aku pusing sekali melihat itu”

Dari beberapa kejadian kelas IX kebanyakan memiliki kisah yang sama, ayah yang pergi entah kemana.
Kisah kelas VIII tak ada bedanya dengan kisah kelas IX;
Salah satu anak sambil menangis dan bergetar tubuhnya menuliskan:
“ aku rindu ayah, ayah kamu pergi kemana? Aku kangen sekali ingin mencium dan memelukmu, aku hidup sebatang kara setelah ayah dan ibu cerai, ayah pergi tak kembali dan ibu menikah lagi. Hidupku telah hancur” kertas yang ia tulis basah dengan air mata yang ia teteskan.

Masih kelas VIII, seorang anak perempuan bertumbuh tinggi dan putih menuliskan kisahnya dengan mata kemerah-merahan:
“ saat itu, aku dan adik di bawa ayah pergi untuk beli tas dan mobil-mobilan ternyata aku di bawa kerumah selingkuhan ayah, ibu dan ayah bertengkar saat pulang karena melihat ayah ada tanda merah di lehernya. Saat di rumah selingkuhan ayah, aku melihat ayah dan selingkuhannya saling bermesraan”

Anak kelas VIII menuliskan kisah yang lain , dia bertumbuh kecil dengan punggung agak bungkuk:
“ aku sedih sekali saat aku di pukul oleh ayah, hal yang paling menyenangkan dalam hidupku adalah jika aku makan sama daging ayam”

Sebenarnya masih banyak kisah mereka yang membuatku merasa terhentak, sakit sekali membaca tulisan mereka dan sedih bukan main. Hampir 80% siswa adalah korban dari keluarga yang berantakan. Rata-rata orang tua mereka bercerai dan menikah lagi, kebanyakan ayah mereka tak pernah mengunjungi mereka. Bahkan ada salah satu anak kelas IX yang keluar sekolah karena sudah tak punya semangat hidup lagi. Ayahnya kerja di luar kota, ibu nya menikah lagi dan hanya mengurus adiknya. Sedangkan dia di rawat oleh neneknya dari pihak ayahnya. Karena kondisi itu akhirnya sang ayah membawa anak itu keluar kota. Konon anak itu  kerja bersama ayahnya di luar kota.
Banyak hal yang menjadi beban mereka, begitu banyak beban yang mereka pikul. Kehidupan yang berat dan menyedihkan, tapi hebatnya mereka …mereka masih semangat berjuang dan sekolah. Bagi mereka sekolah adalah rumah kedua dapat menghilangkan stress saat bertemu dan becanda bersama teman. Sekolah adalah harapan, sekolah adalah cahaya.
Banyak rekan kami yang satu sama lain peduli dengan anak-anak menawarkan sekolah gratis setelah mereka lulus SMP. Bahkan teman-teman ku yang lain memberikan hadiah untuk mereka, baju bekas yang masih bagus dan layak pakai menjadi kado bagi mereka. Kondisi mereka untuk membeli baju bagus adalah hal yang amat sulit, maka dari itu aku sering sekali bercerita tentang mereka kepada teman-temanku sehingga kami berusaha membantu mereka dan membahagiakan mereka.
Dalam satu kesempatan aku dan Bu Rizky mengadakan nonton bersama, film yang di putar tentulah cerita tentang penyangat hidup, dan penyegeran buat pikiran mereka, di akhir acara kami berdua mengadakan kuis dan hadiah. Hal yang menyenangkan memang bisa berbagi dan mengukir senyum di bibir mereka.
Mereka adalah generasi bangsa, mereka manusia yang tegar dan hebat. Dalam kondisi lingkungan yang tidak sehat dan membuat mereka tertekan toh mereka mampu berdiri dan semangat dalam meraih mimpi mereka.
Percerain orang tua mereka itulah yang menjadi hal yang mereka ingat, memang menikah di usia muda kurangnya pemahaman dan kurang dewasanya pikiran orang tua mereka menjadi dampak angka perceraian di lingkungan itu mencapai nilai yang tinggi.
Semoga setelah pengetahuan datang, dan terjamah oleh kehidupan dan pendidikan wawasnan mereka bertambah, dan pengetahuan mereka menjadi bekal dalam hidup mereka untuk keluar dari situasi sulit yang mereka alami.
Semoga Allah SWT selalu memberikan kemudahan agar kelak kalian menjadi anak-anak yang sukses dan penuh dengan semangat. Semoga semangat kalian tak pernah padam semoga mimpi kalian menjadi nyata. Anak-anakku kelak kalian adalah pemimpin untuk bangsa ini, semangat kalian adalah modal kalian untuk sukses.

Hidup selalu memiliki arti ketika kita berbagi dan mencoba membahagiakan sesama 

Kegiatan Kemah Tahun 2015




Nonton Bareng dan Mengadakan Permainan dan Pembagian Hadiah bersama Ibu Rizki Pebriani


















Kegiatan Belajar Siswa








Latihan Pramuka Persiapan untuk Mengikuti Lomba Pramuka




Hiburan Bersama Anaka-Anak Usai Pelajaran Sekolah







Berbagi dengan Anak-Anak "terimakasih pada semua pihak yang telah membantu"



Kebersamaan Ibu Rizki dengan Anak-Anak





 Kebersamaanku dengan Anak-Anak





mereka adalah masa depan bangsa, semoga harapan dan cita-cita mereka tidak pernah mati.

.comment-content a {display: none;}